Pembahasan Pelapisan sosial, Elit dan Massa.


A.  TEORI TENTANG PELAPISAN SOSIA
      


 Pelapisan masyarakat dibagi menjadi beberapa kelas : 
  • Kelas atas (upper class) 
  • Kelas bawah (lower class) 
  • Kelas menengah (middle class)
  • Kelas menengah ke bawah (lower middle class) 


    Beberapa ahli mengemukakan teori tentang pelapisan masyarakat sebagai berikut.
1.  Aristoteles mengatakan bahwa di dalam tiap-tiap Negara terdapat tiga unsur, yaitu mereka yang kaya sekali, mereka yang melarat sekali, dan mereka yang berada di tengah-tengahnya.
2.  Prof. Dr. Selo Sumardjan dan Soelaiman Soemardi SH. MA.menyatakan bahwa selama di dalam masyarakat pasti mempunyai sesuatu yang dihargai olehnya dan setiap masyarakat pasti mempunyai sesuatu yang dihargai.
3.  Vilfredo Pareto menyatakan bahwa ada dua kelas yang senantiasa berbeda setiap waktu yaitu golongan Elite dan golongan Non Elite. Menurut dia pangkal dari pada perbedaan itu karena ada orang-orang yang memiliki kecakapan, watak, keahlian dan kapasitas yang berbeda-beda.
4.  Gaotano Mosoa dalam “The Ruling Class” menyatakan bahwa di dalam seluruh masyarakat dari masyarakat yang kurang berkembang, sampai kepada masyarakat yang paling maju dan penuh kekuasaan dua kelas selalu muncul ialah kelas pertama (jumlahnya selalu sedikit) dan kelas kedua (jumlahnya lebih banyak).
5.  Karl Mark menjelaskan terdapat dua macam di dalam setiap masyarakat yaitu kelas yang memiliki tanah dan alat-alat produksi lainnya dan kelas yang tidak mempunyainya dan hanya memiliki tenaga untuk disumbangkan di dalam proses produksi.

Dari penjelasan diatas terdapat Ukuran atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial, ukurannya adalah sebagai berikut.
1.  Ukuran kekayaan
Kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak mana ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, yang tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah. Kekayaan tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya, maupun kebiasaannya dalam berbelanja,serta kemampuannya dalam berbagi kepada sesama.

2.  Ukuran kekuasaan dan wewenang
Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai orang-orang lain yang tidak kaya, atau sebaliknya, kekuasaan dan wewenang dapat mendatangkan kekayaan.

3.  Ukuran kehormatan
Ukuran kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.

4.  Ukuran ilmu pengetahuan
Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktor ataupun gelar profesional seperti profesor. Namun sering timbul akibat-akibat negatif dari kondisi ini jika gelar-gelar yang disandang tersebut lebih dinilai tinggi daripada ilmu yang dikuasainya, sehingga banyak orang yang berusaha dengan cara-cara yang tidak benar untuk memperoleh gelar kesarjanaan, misalnya dengan membeli skripsi, menyuap, ijazah palsu dan seterusnya.


B. ELIT DAN MASSA

1.  Pengertian Elit
Dalam pengertian yang umum elite itu menunjuk sekelompok orang yang dalam masyarakat menempati kedudukan tinggi. Dalam arti lebih yang khusus dapat diartikan sekelompok orang terkemuka di bidang-bidang tertentu dan khususnya golongan kecil yang memegang kekuasaan.
Dalam cara pemakaiannya yang lebih umum elite dimaksudkan: “posisi di dalam masyarakat di puncak struktur-struktur sosial yang terpenting, yaitu posisi tinggi di dalam ekonomi, pemerintahan aparat kemiliteran, politik, agama, pengajaran, dan pekerjaan-pekerjaan dinas”.

2.  Fungsi elite
Dalam suatu kehidupan sosial yang teratur, baik dalam konteks luas maupun yang lebih sempit, dalam kelompok heterogen maupun homogen selalu ada kecenderungan untuk menyisihkan satu golongan tersendiri sebagai satu golongan yang penting, memiliki kekuasaan dan mendapatkan kedudukan yang terkemuka jika dibandingkan dengan massa. Penentuan golongan minoritas ini
Didasarkan pada penghargaan masyarakat terhadap peranan yang dilancarkan dalam kehidupan masa kini serta andilnya dalam meletakkan, dasar-dasar kehidupan yang akan datang. Golongan minoritas yang berada pada posisi atas yang secara fungsional dapat berkuasa adan menentukan dalam studi sosial dikenal dengan elite. Elit adalah suatu minoritas pribadi-pribadi yang diangkat untuk melayani suatu kolektivitas dengan cara yang bernilai sosial.
Golongan elite sebagai minoritas sering ditampakkan dengan beberapa bentuk penampilan antara lain : 
  • Elite menduduki posisi yang penting dan cenderung merupakan poros kehidupan masyarakat secara keseluruhan. 
  • Faktor utama yang menentukan kedudukan mereka adalah keunggulan dan keberhasilan yang dilandasi oleh kemampuan baik yang bersifat fisik maupun psikhis. 
  • Dalam hal tanggung jawab, mereka memiliki tanggung jawab yang lebih besar jika dibandingkan dengan masyarakat lain. 
  • Ciri-Ciri lain yang merupakan konsekuensi logis dari ketiga hal di atas adalah imbalan yang lebih besar yang diperoleh atas pekerjaan dan usahanya.

3.  Pengertian Massa
Istilah massa dipergunakan untuk menunjukkan suatu pengelompokkan kolektif lain yang elementer dan spontan, yang dalam beberapa hal menyerupai crowd, tapi yang secara fundamental berbeda dengannya dalam hal-hal yang lain.
Massa diwakili oleh orang-orang yang berperan serta dalam perilaku massal sepertinya mereka yang terbangkitkan minatnya oleh beberapa peristiwa nasional, mereka yang menyebar di berbagai tempat.
4.  Ciri-ciri massa
Terhadap beberapa hal yang penting sebagian ciri-ciri yang membedakan di dalam massa :
Keanggotaannya berasal dari semua lapisan masyarakat atau strata sosial, meliputi orang-orang dari berbagai posisi kelas yang berbeda, dari jabatan kecakapan, tingkat kemakamuran atau kebudayaan yang berbeda-beda. Orang bisa mengenali mereka sebagai massa misalnya orang-orang yang sedang mengikuti suatu proses peradilan tentang pembunuhan misalnya melalui pers.

C. CONTOH ELITE PEMEGANG STRATEGI
contoh elite dalam memegang strategi secara garis besar adalah sebagai berikut :
a)     Elite politik, sebagai contoh adalah ketua umum suatu partai politik dimana dia memiliki peranan yang besar untuk memimpin kadernya sukses dalam setiap pemilihan umum baik itu kepala daerah anggota legislatif atau bahkan kepala negara.
b)    Elite Militer,  pemegang strategi pada elit militer misalnya adalah panglima TNI, kepala staff Angkatan Darat, Laut dan Udara. Yang memiliki kewenangan untuk mengatur perajurit dan aluttista yang dibutuhkan untuk perkuatan militer negara.
c)    Elite agama, para tokoh agama dan pimpinan organisasi agama semisal, MUI, Nahdatul Ulama, PP Muhammadiyah, dll. Yang yang mempunyai pengaruh untuk membawa umat pengikutnya bertindak dan berperilaku dalam menjalani kehidupan.

Para elite pemegang strategi tersebut memiliki prinsip yang sama dalam menjalankan fungsi pokok maupun fungsinya yang lain, seperti memberikan contoh tingkah laku yang baik kepada masyarakatnya, mengkoordinir serta menciptakan suasana yang harmonis dalam berbagai kegiatan, fungsi pertahanan dan keamanan, meredam konflik sosial maupun fisik dan dapat melindungi masyarakatnya terhadap bahaya dari perpecahan bangsa.

Referensi :

Prasangka & Diskriminasi serta Entosentrisme

Prasangka & Diskriminasi serta Entosentrisme




A.   PRASANGKA

1.       Pengertian
·         Menurut worchel (2000), prasangka dibatasi sebagai sifat negative yang tidak dapat dibenarkan terhadap suatu kelompok dan individu anggotanya. Prasangka atau prasangka sosial merupakan perilaku negative yang mengarahkan kelompok pada individualis berdasarkan pada keterbatasan atau kesalahan informasi tentang kelompok. Prasangka juga dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang bersifat emosional, yang akan mudah sekali menjadi motivator munculnya ledakan sosial.
·         Menurut Brehm dan Kassin (1993), prasangka sosial adalah perasaan negative terhadap seseorang semata-mata berdasar pada keanggotaan mereka dalam kelompok tertentu. Sedangkan menurut Mar’at (1981), prasangka sosial adalah dugaan-dugaan yang memiliki nilai positif atau negative, tetapi biasanya lebih bersifat negatif.
·         Menurut David O. Sears (1991), prasangka sosial adalah penilaian terhadap kelompok atau seorang individu yang terutama didasarkan pada keanggotaan kelompok tersebut, artinya prasangka sosial ditujukan pada orang atau kelompok orang yang berbeda dengannya atau kelompoknya. Prasangka sosial memiliki kualitas suka dan tidak suka pada obyek yang diprasangkainya, dan kondisi ini akan mempengaruhi tindakan atau perilaku seseorang yang berprasangka tersebut.

2.       Ciri-Ciri Prasangka Sosial
Ciri-ciri prasangka sosial menurut Brigham (1991) dapat dilihat dari kecenderungan individu untuk membuat kategori sosial (sosial categorization). Kategori sosial adalah kecenderungan untuk membagi dunia sosial menjadi dua kelompok, yaitu “kelompok kita” (in group) dan “kelompok mereka” (out group). In group adalah kelompok sosial dimana individu merasa dirinya dimiliki atau memilki (“kelompok kami”). Sedangkan out group adalah grup di luar grup sendiri (“kelompok mereka”).

Timbulnya prasangka sosial dapat dilihat dari perasaan in group dan out group  yang menguat. Ciri-ciri dari prasangka sosial berdasarkan penguatan perasaan in group dan out group  adalah :
1)      Proses generalisasi terhadap perbuatan anggota kelompok lain.
Menurut Ancok dan Suroso (1995), jika ada salah seorang individu dari kelompok luar berbuat negatif, maka akan digeneralisasikan pada semua anggota kelompok luar.
2)      Kompetensi sosial
Kompetensi sosial merupakan suatu cara yang digunakan oleh anggota kelompok untuk meningkatakan harga dirinya dengan membandingkan kelompoknya dengan kelompok lain.
3)      Penilaian ekstrim terhadap anggota lain
Individu melakukan penilaian terhadap anggota kelompok lain baik penilaian positif ataupun negatif secara berlebihan. Biasanya penilaian yang diberikan berupa penilaian negatif.
4)      Pengaruh persepsi selektif dan ingatan masa lalu
Pengaruh persepsi selektif dan ingatan masa lalu biasanya dikaitkan dengan stereotip. Stereotip adalah keyakinan (belief) yang menghubungkan sekelompok individu dengan ciri-ciri sifat tertentu atau anggapan tentang ciri-ciri yang dimiliki oleh anggota kelompok luar.
5)      Perasaan frustasi (scope goating)
Menurut Brigham (1991), perasaan frustasi (scope goating) adalah rasa frustasi seseorang sehingga membutuhkan pelampiasan sebagai objek atas ketidakmampuannya menghadapi kegagalan.
6)      Agresi antar kelompok
Agresi biasanya timbul akibat cara berfikir yang rasialis, sehingga menyebabkan seseorang cenderung berperilaku agresif.
7)      Dogmatisme
Dogmatisme adalah sekumpulan kepercayaan yang dianut seseorang berkaitan dengan masalah tertentu, salah satunya adalah mengenai kelompok lain. Bentuk dogmatisme dapat berupa etnosentrisme dan favoritisme.

3.       Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prasangka Sosial
Proses pembentukan prasangka sosial menurut Mar’at (1981) dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
1)      Pengaruh Kepribadian
Dalam perkembangan kepribadian seseorang akan terlihat pula pembentukan prasangka sosial.
2)      Pendidikan dan Status
Semakin tinggi pendidikan seseorang dan semakin tinggi status yang dimilikinya akan mempengaruhi cara berfikirnya dan akan meredusir prasangka sosial.
3)      Pengaruh Pendidikan Anak oleh Orangtua
Dalam hal ini orang tua memiliki nilai-nilai tradisional yang dapat dikatakan berperan sebagai family ideology yang akan mempengaruhi prasangka sosial.
4)      Pengaruh Kelompok
Kelompok memilki norma dan nilai tersendiri dan akan mempengaruhi pembentukan prasangka sosial pada kelompok tersebut. Oleh karenanya norma kelompok yang memiliki fungsi otonom dan akan banyak memberikan informasi secara realistis atau secara emosional yang mempengaruhi system sikap individu.
5)      Pengaruh Politik dan Ekonomi
Politik dan ekonomi sering mendominir pembentukan prasangka sosial. Pengaruh politik dan ekonomi telah banyak memicu terjadinya prasangka sosial terhadap kelompok lain misalnya kelompok minoritas.
6)      Pengaruh Komunikasi
Komunikasi juga memiliki peranan penting dalam memberikan informasi yang baik dan komponen sikap akan banyak dipengaruhi oleh media massa seperti radio, televise, video yang kesemuanya hal ini akan mempengaruhi pembentukan prasangka sosial dalam diri seseorang.
7)      Pengaruh Hubungan Sosial
Hubungan sosial merupakan suatu media dalam mengurangi atau mempertinggi pembentukan prasangka sosial (Sears, 1985).

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa prasangka sosial terjadi disebabkan adanya perasaan berbeda dengan orang lain atau kelompok lain. Selain itu prasangka sosial disebabkan oleh adanya proses belajar, juga timbul disebabkan oleh adanya perasaan membenci antar individu atau kelompok misalnya antara kelompok mayoritas dan kelompok minoritas.

4.       Dampak Prasangka Sosial
Menurut Rosenberg dan Simmons, (1971) menjelaskan bahwa prasangka sosial akan menjadikan kelompok individu tertentu dengan kelompok individu lain berbeda kedudukannya dan menjadikan kelompok individu tertentu dengan kelompok individu lain berbeda kedudukannya dan menjadikan mereka tidak mau bergabung atau bersosialisasi. Apabila hal ini terjadi dalam organisasi atau perusahaan akan merusak kerjasama. Selanjutnya diuraikan bahwa prasangka sosial dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama karena prasangka sosial merupakan pengalaman yang kurang menyenangkan bagi kelompok yang diprasangkai tersebut.

Sedangkan menurut Steplan (1978), menjelaskan bahwa prasangka sosial tidak saja mempengaruhi perilaku orang dewasa tetapi juga anak-anak sehingga dapat membatasi kesempatan mereka berkembang menjadi orang yang memiliki toleransi terhadap kelompok sasaran misalnya kelompok minoritas.

B.    DISKRIMINASI

1.       Pengertian
·         Menurut Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Pasal 1 Ayat (3) yang berbunyi “Diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung atau tak langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, Bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan. Atau pengahpusan, pengakuan, pelaksanaa atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosisal, budaya, dan aspek kehidupan lainnya”.
Diskriminasi merujuk kepada pelayanan yang tidakl adil terhadap individu tertentu, di mana layanan ini dibuat berdasarkan karakteristik yang diwakili oleh individu tersebut. Diskriminasi merupakan suatu kejadian yang biasa dijumpai dalam masyarakat manusia, ini disebabkan karena kecenderungan manusia untuk membeda-bedakan yang lain. Atau ketika seseorang diperlukan secara tidak adil karena karakteristik suku, antar golongan, kelamin, ras, agama dan kepercayaan, a;iran politik, kondisi fisik atau karakteristik lain yang diduga merupakan dasar dari tindakan diskriminasi.
·         Menurut theodorson & amp; theodorson, (1979): diskriminasi adalah perlakuan yang tidak seimbang terhadap perorangan, atau kelompok, berdasarkan sesuatu, biasanya bersifat kategorikal, atau atribut-atribut khas, seperti berdasarkan ras, kesukubangsaan, agama, atau keanggotaan kelas-kelas sosial. Istilah tersebut biasanya untuk melukiskan, suatu tindakan dari pihak mayoritas yang dominan dalam hubungannya dengan minoritas yang lemah, sehingga dapat dikatakan bahwa perilaku mereka itu bersifat tidak bermoral dan tidak demokratis.
2.       Penyebab Diskriminasi Sosial :
1)      Perbedaan latar belakang
2)      Perbedaan keyakinan, kepercayaan dan agama
3)      Perkembangan sosio kultural dan situasional
4)      Perbedaan kepentingan
5)      Perbedaan individu

C.    ETNOSENTRISME
Etnosentris adalah kecenderungan untuk melihat dunia melalui filter budaya sendiri. Istilah ini sering dipandang negatif, yang didefinisikan sebagai ketidak mampuan untuk melihat orang lain dengan cara diluar latar belakang budaya anda sendiri. Sebuah definisi terkait etnosentrisme memiliki kecenderungan untuk menilai orang dari kelompok, masyarakat, atau gaya hidup yang lain sesuai dengan standar dalam kelompok atau budaya sendiri, sering kali melihat kelompok lainnya sebagai inferior (lebih rendah) (healey, 1998; Noel, 1968).
Ketika suku bangsa yang satu menganggap suku bangsa yang lain lebih rendah, maka sikap demikian akan menimbulkan konflik. Konflik tersebut misalnya kasus SARA, yaitu pertentangan yang didasari oleh Suku, Agama, Ras dan antar golongan. Dampak negatif yang lebih luas dari sikap etnosentrisme antara lain :
a.     Mengurangi ke objektifan ilmu pengetahuan
b.     Menghambat pertukaran budaya
c.     Menghambat proses asimilasi kelompok yang berbeda
d.     Memacu timbulnya konflik sosial.
Disisi yang lain, jika dilihat dari fungsi sosial, etnosentrisme dapat menghubungkan seseorang dengan kelompok sehingga dapat menimbulkan solidaritas kelompok yang sangat kuat. Dengan memiliki rasa solidaritas, setiap individu akan bersedia memberikan pengorbanan secara maksimal. Sikap etnosentrisme diajarkan kepada kelompok bersama dengan nilai-nilai kebudayaan. Salah satu bukti adanya sikap etnosentrisme adalah hampir setiap individu merasa bahwa kebudayaannya yang paling baik dan lebih tinggi dibanding dengan kebudayaan lainnya, misalnya :
a.     Bangsa Amerika serikat bangga akan ilmu pengetahuan dan teknologinya
b.     Bangsa Jerman bangga akan kemampuan intelektualnya.
c.     Bangsa Francis bangga akan budaya tata krama atau table manner yang mendunia.
d.     Bangsa Inggris bangga akan bahasanya.
Dampak positif dari etnosentrisme yaitu dapat  mempertinggi semangat patriotisme, menjaga keutuhan dan stabilitas kebudayaan, serta mempertinggi rasa cinta kepada bangsa sendiri.
Sikap etnosentrisme adalah sikap yang paling menggunakan pandangan dan cara hidup dari sudut pandangan nya sebagai tolak ukur untuk menilai kelompok lain.
Apabila tidak dikelola dengan baik, perbedaan budaya dan adat istiadat antara kelompok masyarakat tersebut akan menimbulkan konflik sosial akibat adanya sikap etnosentrisme. Sikap tersebut timbul karena adanya anggapan suatu kelompok masyarakat bahwa mereka memiliki pandangan hidup dan sistem nilai yang berbeda dengan kelompok masyarakat lainnya.

D.   UPAYA-UPAYA MENGURANGI/MENGHILANGKAN PRASANGKA DAN DISKRIMINASI

1.       Perbaikan Kondisi Sosial Ekonomi
Pemerataan dan usaha peningkatan pendapatan bagi warga negara Indonesia masih tergolong dibawah garis kemiskinan akan mengurangi adanya kesenjangan-kesenjangan sosial antar si kaya dan si miskin. Melalui program-program pembangunan yang mantap dan didukung oleh lembaga-lembaga ekonomi pedesaan seperti BUUD dan KUD. Sehingga golongan ekonomi lemah lambat laun dapat menikmati usaha-usaha pemerintah dalam perbaikan dalam sector perekonomian. Dengan begitu prasangka-prasangka ketidakadilan dalam sector perekonomian antara kelompok kuat dan kelompok ekonomi lemak sedikit demi sedikit dapat berkurang. Dan akhirnya akan sirna.
2.       Perluasan Kesempatan Belajar
Pendidikan merupakan salah satu faktor penting yang dapat membentuk pribadi dan peningkatan wawasan setiap warga negara. Pemerataan kesempatan belajar untuk setiap warga negara di seluruh daerah merupakan suatu keniscayaan, baik itu infrastruktur sekolah yang baik, pengajar yang berkualitas serta akses menuju sekolah yang mudah. Sehingga setiap warga negara dapat mengenyam pendidikan secara maksimal.
3.       Pemerataan Pembangunan
Infrastruktur di pulau jawa lebih baik dibandingkan dengan daerah-daerah lain di indonesia. Hal ini dapat memicu adanya prasangka-prasangka pada masyarakat di luar pulau jawa yang merasa kurang diperhatikan. Oleh karena itu pembangunan infrastruktur di daerah harus ditingkatkan untuk mengejar ketertinggalan pembangunan infrastruktur di pulau jawa. Bahkan masih ada masyarakat pedalaman papua yang belum merasakan adanya aliran listrik.
4.       Peningkatan layanan kesehatan untuk semua
Peningkatan layanan kesehatan untuk seluruh masyarakat, tidak adanya perbedaan pelayanan untuk masyarakat mampu dan tidak mampu.
5.       Persamaan perlakuan setiap warga negara di depan hukum
Hukum tidak pandang bulu, baik kaya, miskin, penguasa dll semua sama kedudukannya di depan hukum. Penegak hukum harus memperlakukan setiap orang sama di depan hukum.



Referensi :

TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA

TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA



A.   TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA


1.       Pengertian Toleransi
Toleransi berasal dari bahasa latin “tolerantia” yang berarti kelonggaran, kelembutan hati, keringanan dan kesabaran. Secara etimologis istilah “tolerantia” dikenal dengan sangat baik di dataran Eropa, terutama pada Revolusi Perancis. Hal itu terkait dengan slogan kebebasan, persamaan dan persaudaraan yang menjadi inti Revolusi Perancis.

Dalam bahasa Inggris “tolerance” yang berarti sikap membiarkan, mengakui dan menghormati keyakinan orang lain tanpa memerlukan persetujuan. Sedangkan dalam bahasa Arab istilah ini merujuk kepada kata “tasamuh” yaitu saling mengizinkan atau saling memudahkan.

Kemudian dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia menjelaskan toleransi dengan kelapangdadaan, dalam artian suka kepada siapa pun, membiarkan orang berpendapat atau berpendirian lain, tak mau mengganggu kebebasan berpikir dan berkeyakinan orang lain. Sedangkan dalam pandangan para ahli, toleransi mempunyai beragam pengertian. 

Micheal Wazler (1997) memandang toleransi sebagai keniscayaan dalam ruang individu dan ruang publik karena salah satu tujuan toleransi adalah membangun hidup damai (peaceful coexistence) diantara berbagai kelompok masyarakat dari berbagai perbedaan latar belakang sejarah, kebudayaan dan identitas.

Sementara itu, Heiler menyatakan toleransi yang diwujudkan dalam kata dan perbuatan harus dijadikan sikap menghadapi pluralitas agama yang dilandasi dengan kesadaran ilmiah dan harus dilakukan dalam hubungan kerjasama yang bersahabat dengan antar pemeluk agama.

Secara sederhana, toleransi atau sikap toleran diartikan oleh Djohan Efendi sebagai sikap menghargai terhadap kemajemukan. Dengan kata lain sikap ini bukan saja untuk mengakui eksistensi dan hak-hak orang lain, bahkan lebih dari itu, terlibat dalam usaha mengetahui dan memahami adanya kemajemukan.
2.       Toleransi Antar Umat Beragama
Dengan demikian toleransi dalam konteks ini berarti kesadaran untuk hidup berdampingan dan bekerjasama antar pemeluk agama yang berbeda-beda. Sebab hakikat toleransi terhadap agama-agama lain merupakan satu prasyarat utama bagi setiap individu yang ingin kehidupan damai dan tenteram, maka dengan begitu akan terwujud interaksi dan kesefahaman yang baik di kalangan masyarakat beragama.
Dalam UUD 1945 pasal 29 ayat 2 telah disebutkan bahwa "Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya sendiri-sendiri dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya" Sehigga kita sebagai warga Negara sudah sewajarnya saling menghormati antar hak dan kewajiban yang ada diantara kita demi menjaga keutuhan Negara dan menjunjung tinggi sikap saling toleransi antar umat beragama.
Seperti diketahui, persoalan agama merupakan hal yang sensitif, karena menyangkut hubungan pribadi antara manusia dengan Tuhan. Agama menyangkut kesadaran religius, yang tersembunyi dalam setiap individu. Jadi keimanan beragama merupakan suatu hal yang tidak dapat dipaksakan. Setiap usaha memaksa, dengan cara mewajibkan atau melarang agama tertentu merupakan pelanggaran serius terhadap hak pribadi (Siagian, 1987). Oleh karena itu penghinaan atau penghujatan terhadap suatu agama tertentu menjadi persoalan serius yang sulit untuk diatasi, apalagi hanya memandang dari perspektif hokum positif.
Berdasarkan sejarah masa lalu sebenarnya, menurut Parsen (dalam Koentjaraningrat, 1982) Indonesia merupakan tempat pertemuan agama-agama di dunia. Keaneka-ragaman agama yang ada di Indonesia dapat dikatakan tidak menimbulkan permasalahan atau pertentangan, namun justru menunjukkan adanya saling toleransi, kerjasama dan saling menghormati.
Lebih lanjut Parsen (Adisubroto, 1993/1994) menjelaskan pula bahwa hanya Indonesia yang mempunyai rasa keagamaan monoteisme yang demikian menyatu secara alamiah dengan masyarakatnya. Hal itu tercermin dalam cara hidup di desa-desa yang tidak lepas dari dasar-dasar religius, seperti misalnya adanya berbagai bentuk selamatan. Ada beberapa tempat yang masih menghormati hewan yang disakralkan oleh agama tertentu.
Jadi pada dasarnya umat beragama yang berbeda-beda di Indonesia mempunyai dasar untuk mampu hidup rukun dan berdampingan bersama. Namun demikian searah dengan perubahan yang terjadi di masyarakat menyebabkan perubahan pula dalam hubungan kehidupan keagamaan, antara lain ada banyak kasus kerusuhan besar yang disulut oleh faktor perbedaan agama. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara tidak dapat dilepaskan dari dinamika kehidupan yang mendorong terjadinya perubahan sosial yang mendasar dan bermacam-macam. Perubahan tersebut searah dengan semakin majunya masyarakat menuju era modernisasi dan globalisasi dalam segenap bidang kehidupan.
Modernisasi dalam masyarakat adalah suatu proses transformasi; suatu perubahan masyarakat dalam segala aspeknya (Schoorl, 1991). Perubahan-perubahan tersebut antara lain meliputi :
1)      Bidang politik; dari sistem-sistem yang menganut kekuasaan kepala adat / desa yang sederhana digantikan dengan sistem-sistem pemilihan umum, perwakilan, dan birokrasi. Selain itu persoalan keagamaan "dilarikan" menjadi persoalan politik, karena dukungan politik sangat diperlukan untuk membesarkan suatu kelompok / sekte agama tertentu. Akhirnya persoalan agama menjadi kendaraan politik bagi pemimpinnya.
2)      Bidang teknologi; masyarakat yang sedang berkembang mengalami perubahan dari penggunaan teknik-teknik yang sederhana dan tradisional ke arah penggunaan teknologi hasil pengetahuan ilmiah. Perangkat tehnologi komunikasi yang semakin canggih akan mengurangi sensitivitas dan keterdekatan secara social antara satu individu dengan individu lainnya. Akhirnya akan mempermudah pada keberpihakan pada kepentingan individual daripada menuntaskan kepentingan bersama.
3)      Bidang pendidikan ; masyarakat sekarang berusaha keras meningkatkan kemampuan baca tulis dan mengurangi buta huruf untuk menambah pengetahuan dalam berbagai hal/bidang kegiatan. Namun demikian berpengaruh pula dalam penafsiran akan Firman Allah yang mulai menggunakan rasio (logika). Hal inipun menjadi bibit persoalan internal kelompok beragama maupun antara umat berlainan agama. Padahal kemampuan akal dalam melakukan interpretasi terhadap sebuah teks selalu banyak mengalami kelemahan (Jamuin, 1999), apalagi menyalahi ketentuan Agama (Mudzakarah dalam Almuslimun, 1998).
4)      Bidang sosial ; adanya mobilitas geografis dan sosial cenderung merenggangkan sistem-sistem hierarki yang sudah ada. Anggota masyarakat yang sebelumnya mempunyai sikap kebersamaan dan keterikatan yang tinggi pada desa/adat istiadatnya serta kepatuhan pada tetua adat atau sesepuh, sekarang sikap tersebut menjadi semakin berkurang dan bahkan hilang sama sekali. Selain penyelesaian persoalan yang bisa dilakukan secara adat/ budaya berubah menjadi penyelesaian secara hukum. Padahal sebagaimana diketahui penyelesaian hukum tidak akan efektif karena akan berlangsung dalam jangka waktu yang lama dan berbelit-belit.
Masih banyak lagi perubahan-perubahan yang terjadi akibat adanya pengaruh sosial dari kekuatan sosial yang bermacam-macam bentuknya. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam proses modernisasi dan globalisasi ini lambat laun tentu akan terjadi pada setiap bangsa / masyarakat di dunia ini. Pada penelitian Chen (dalam Brouwer,1989) tentang proses modernisasi di Singapura menemukan bahwa banyak terjadi perubahan-perubahan akibat adanya modernisasi di segala bidang kehidupan. Perubahan-perubahan tersebut meliputi perubahan relasi paternalistis dalam perusahaan, relasi antara anak dan orang tua yang semakin mengendor, gotong royong dan hidup bersama menjadi berkurang serta relasi persaudaraan yang longgar.
Kemajuan teknologi dari negara-negara Barat mau tidak mau akan terus merambah deras ke negara-negara lain di dunia ini, terutama negara-negara yang sedang berkembang. Masyarakat dunia akan menganggap bahwa modernisasi sangat diperlukan untuk memajukan kehidupan. Hal ini karena modernisasi di segala bidang kehidupan dianggap mempunyai pengaruh positif. Masyarakat menjadi lebih efektif dan efisien dalam menyelesaikan pekerjaannya (Matulessy, 1992). Namun demikian seperti dua sisi mata uang, dampak negatif dari adanya perubahan sosial menyertai hubungan sosial atau keberagamaan.
3.       Faktor Penyebab Pertentangan Antar Umat Beragama
Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya permasalahan/ pertentangan antar umat beragama, antara lain:
1)      Adanya prasangka social
Prasangka merupakan fenomena yang terjadi antar kelompok yang cenderung berkonotasi negatif (Kuppuswamy, 1973). Prasangka bisa muncul karena adanya konflik atau kompetisi antar kelompok. Prasangka tersebut terkait erat dengan stereotipe negatif pada kelompok lain atau stigma yang akan melekat dan diturunkan terus menerus dalam kehidupan selanjutnya, akhirnya prasangka tersebut terlihat sebagai dosa turun menurun yang akan selalu ditularkan dari satu generasi ke generasi yang lain. Prasangka menjadi mengkristal karena tidak pernah ada penyelesaian yang tuntas. Pada akhirnya prasangka yang tak kunjung selesai akan menciptakan keinginan untuk melakukan diskriminasi dalam berbagai bidang kehidupan. Akan muncul konsep in-group dan out-group, yang menganggap kelompok dan orang-orang yang se ide dan se ideology sebagai kelompok yang benar, dan sebaliknya orang lain yang tidak se ide sebagai ancaman bagi dirinya. Sebagaimana yang terungkap dalam investigasi dari Gatra (Agustus, 2001) tentang banyak bermunculan panglima cilik dari komunitas Islam (putih) maupun Kristen (merah) di dalam kerusuhan Ambon, akibat dari konflik yang terus menerus dan semakin meneguhkan anggapan atau persepsi yang negatif di antara mereka.
2)      Fanatisme yang berlebihan dan keliru dalam kehidupan beragama
Pertentangan antar umat bergama bisa muncul bila terjadi adanya pandangan yang mengagung-agungkan agamanya, namun menganggap rendah agama lain. Akhirnya segala hal yang menyangkut agama lain, dianggap sebagai sesuatu yang negatif atau bahkan lebih jauh lagi dianggap sebagai musuh yang tidak harus dihormati. Akhirnya pandangan negatif tersebut akan menjadi bibit permusuhan antar umat beragama. Hal ini oleh Jamuin (1999) diistilahkan sebagai klaim kebenaran yang didasarkan atas keyakinan membabi-buta terhadap hasil interpretasi atas teks ajaran agama. Hal tersebut karena klaim kebenaran akan mengarah pada munculnya konflik antar pemeluk agama yang bisa meluas pada konflik pada wilayah kehidupan yang lain.
3)      Kurangnya komunikasi
Suatu pertentangan atau permusuhan kadangkala disebabkan oleh ketidaklancaran dalam mengkomunikasikan pesan. Pesan ditangkap oleh orang lain sebagai sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya diinginkan oleh pemberi pesan. Akhirnya akan terjadi kesalahan persepsi akan maksud pesan tersebut, yang berlanjut dengan ketegangan diantara pemberi dan penerima pesan. Begitu pula dalam kehidupan beragama, suatu ketegangan akan terjadi bila suatu hal yang dikomunikasikan oleh agama tertentu dipersepsikan keliru oleh agama yang lain. Hal tersebut karena kelompok-kelompok yang jarang atau tidak pernah berkomunikasi akan menggunakan info yang sedikit tersebut untuk mengambil keputusan akan kemungkinan perilaku orang lain. Oleh karena itu perlu adanya komunikasi antara umat beragama agar tercapai kesamaan persepsi atau sensitivitas akan maksud dan tujuan pesan yang dikomunikasikan.
4)      Pencampur adukan kepentingan agama dengan kepentingan social, politik, ekonomi
Kepentingan agama memang tidak dapat dilepaskan dari faktor-faktor lain yang melingkupinya. Merunut sejarah masa lalu, agama tidak dapat dipisahkan dari kepentingan-kepentingan lain. Akhirnya kadangkala umat beragama terpecah menjadi berbagai kepentingan yang mempunyai misi dan visi berbeda. Akhirnya apabila muncul ketegangan di antara berbagai kepentingan tidak dapat melepaskan diri dari atribut kepentingan politik atau ekonomi yang disandangnya. Apalagi memiliki kekuasaan politik berarti mempunyai kekuasaan yang lebih dibanding yang lain
.
5)      Kurangnya wawasan akan ilmu keagamaan
Sebagaimana diketahui cara pemahaman masyarakat akan kehidupan beragama lebih diarahkan pada kegairahan beragama, bukan pada perluasan cakrawala keagamaan. Akhirnya masyarakat lebih mementingkan kharismatisme dan pengkultusan tokoh agama, bukan pada cara-cara menggunakan analisis atau pemahaman hakekat keagamaannya (Isngadi dalam Surya, 11 April 1997). Hal inilah yang kadang-kadang bisa menimbulkan deindividuasi pengikut keagamaan untuk selalu mengikuti kehendak pemimpin keagamaan yang belum tentu selalu benar.
6)      Terakumulasinya permasalahan sosial ekonomi, seperti kemiskinan, meningkatnya pengangguran dan tidak stabilnya harga kebutuhan pokok, yang tidak terselesaikan dapat pula menjadi pemicu dasar kerusuhan, apalagi bila dikaitkan dengan persoalan agama. Agama bisa menjadi precipitating factor / event yang ampuh dalam memunculkan kerusuhan. Apalagi ada provokator yang mampu me"manage" isu sehingga mudah membakar massa yang sudah frustasi dengan seabreg ketidakpuasan.

4.       Beberapa Cara Menumbuhkan Rasa Toleransi antar Umat Beragama
1)    Menanamkan sikap tenggang rasa, saling menghormati pada anak sedini mungkin. Disini peran keluarga sangat besar, orangtua hendaknya menanamkan nilai-nilai toleransi kepada anak-anaknya sejak dini. Sehingga nilai-nilai ini akan tertanam dan membentuk suatu sikap dan perilaku anak yang mempunyai rasa toleransi yang tinggi ketika dewasa.
2)    Tingkatkan Kualitas Pendidikan Masyarakat
Di sekolah kita diajarkan tentang toleransi, siswa diberikan pemahaman tentang kemajemukan masyarakat indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa, adat istiadat dan agama. Sehingga masyarakat indonesia harus menyesuaikan diri dengan berbagai perbedaan yang ada, siswa diajarkan untuk menghargai dan menghormati orang lain yang berbeda dengan dirinya, sehingga dapat hidup damai bersama-sama. Oleh karena itu sangat penting untuk mengingkatkan pendidikan masyarakat, sehingga menjadikan masyarakat indonesia yang cerdas dan memiliki rasa toleransi yang tinggi. 
3)    Meningkatkan komunikasi di antara umat beragama untuk mengurangi prasangka serta mempererat kerukunan.
Komunikasi ini dalam bentuk dialog interaktif secara kontinu dengan tujuan untuk membangun kesadaran sebagai bagian dari masyarakat plural; kegiatan bersama untuk membangun rasa percaya di antara umat beragama, serta refleksi & renungan keagamaan untuk mensikapi perbedaan visi keagamaan.
4)    Kesadaran dari para pemuka agama untuk tidak menjadikan agama sebagai alat politik
Hal ini memang tidak mudah, karena politik berarti kekuasaan, dan agama merupakan kendaraan politik yang paling ampuh untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal sebagian besar pemeluk agama tergolong pada masyarakat level bawah, yang mengedepankan emosi pada para pemimpin agamanya (politik), ditambah dengan kekurangmampuan mengulas konflik dengan lebih bijaksana dalam tataran wacana, sehingga mudah sekali digiring pada aksi brutal untuk mempertahankan agamanya (pemimpin). Oleh karena itu pemimpin keagamaan diharapkan mengurangi perannya dalam politik atau tidak memunculkan pendapat yang sudah dirasuki oleh kepentingan politik. Selain itu menumbuhkan suasana yang sejuk serta tidak menguatkan klaim kebenaran yang mengarah pada fanatisme yang keliru.
5)    Tingkatkan wawasan akan ilmu keagamaan.
Setiap agama mengajarkan akan cinta kasih dan perdamaian, tetapi masih banyak umat di masing-masing agama yang belum memahami dan menjalankannya secara sungguh-sungguh. Sehingga masih terjadi perselisihan antar umat beragama, dengan meningkatkan wawasan akan ilmu kegamaan ini diharapkan umat dapat memahami dan menjalankan ajaran agamanya secara baik dan sungguh-sungguh.
6)    Tingkatkan rasa persatuan
Semboyan bangsa indonesia yaitu “Bhineka Tunggal Ika” yang berarti “walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua” harus dipegang teguh oleh seluruh lapisan masyarakat indonesia. Rasa persatuan bahwa kita suatu bangsa yang satu yaitu bangsa indonesia. Seperti yang telah ditanamkan oleh para pendiri bangsa untuk mencapai cita-cita bangsa.  Maka tentunya rasa toleransi harus terus ditingkatkan, sehingga kita bisa seiring sejalan dalam perbedaan.

Tanpa adanya toleransi antar kelompok agama, maka jangan harap segala capaian atau keinginan akan perubahan pada masa depan negara ini akan tercapai.

B.    CONTOH TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA


Salah satu contoh toleransi antar umat beragama berikut ini adalah suatu berita yang dimuat di cnnindonesia.COM yang berjudul : “Berbagi Lahan Parkir, Toleransi Sarat Makna Katedral-Istiqlal” pada hari jum’at, 17/07/2015. 

Jakarta, CNN Indonesia -- Suara merdu azan zuhur dari Masjid Istiqlal siang itu seolah menjadi lonceng kesadaran bagi para umat Katolik yang tengah berdoa di Gereja Katedral.
Vincensius Alexander Irwandy (47) tetap khusyuk berdoa. Dengan mata terpejam dan jari-jari yang terlipat, ia memanjatkan doa di depan altar.

"Kami sama sekali tidak terganggu dengan suara azan. Sebagai sesama umat beragama, kami saling menunjukkan sikap toleransi," kata Vincensius kepada CNN Indonesia, di Katedral, Jakarta, Kamis (16/7).

Toleransi antara umat beragama dapat tampak dalam berbagai hal, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun. Misalnya, berbagi lahan parkir.
Dituturkan oleh Hendrik, karyawan Gereja Katedral, tradisi berbagi lahan parkir antara Katedral dan Istiqlal telah berlangsung lebih dari sepuluh tahun.

Terutama untuk momen Hari Raya Idul Fitri, Katedral menyediakan lahannya untuk digunakan sebagai tempat parkir umat muslim yang Salat Id Istiqlal.

"Begitu juga saat Natal, Istiqlal akan mengizinkan lahannya untuk tempat parkir umat kami," kata Hendrik.

Hendrik menuturkan, toleransi antara pihak Katedral dan Istiqlal cukup erat. Dari tahun ke tahun pun, kata Hendrik, umat Katolik di Katedral semakin merasa aman dalam melaksanakan misa Natal.

"Saya pikir, untuk kawasan Jakarta, toleransi umat beragama cukup baik," katanya.

Hal senada diungkapkan Vincensius. "Kami makin merasakan aman saat beribadah," ujarnya.

Hendrik juga menuturkan bahwa tahun ini Keuskupan Katedral mengundang para ulama dari Istiqlal untuk buka bersama. Hal itu, menurut Hendrik, semakin menguatkan toleransi antara umat Islam dan Katolik.

"Kemarin baru saja uskup gereja menjadi tuan rumah untuk acara buka bersama dengan para ulama. Saya kira itu bentuk toleransi yang patut diapresiasi," katanya.

Pada Jumat (17/7), umat Islam akan merayakan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1436 Hijriah. Pihak Katedral telah mengizinkan lahannya untuk dipakai sebagai tempat parkir umat Istiqlal yang hendak menjalankan Salat Id.

"Silakan parkir di sini. Ini sudah jadi tradisi setiap tahunnya," kata Hendrik (hel)

Berita diatas merupakan suatu contoh konkrit yang terjadi di jakarta, hal ini menjelaskan bahwa hidup berdampingan dengan harmonis antar umat beragama membuat kehidupan menjadi lebih indah dan setiap permasalahan yang dihadapi masing-masing umat menjadi lebih ringan dengan adanya kerjasama, saling membantu dan tolong menolong.   

                Referensi :

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)





A.  Pengertian Ilmu, Pengetahuan & Teknologi

  • Ilmu adalah pemahaman mengenai suatu pengetahuan, yang mempunyai fungsi untuk mencari, menyelidiki, lalu menyelesaikan suatu hipotesis. Ilmu juga yaitu merupakan suatu pengetahuan yang sudah teruji akan kebenarannya. 
  • Pengetahuan adalah suatu yang diketahui ataupun disadari oleh seseorang yang didapat dari pengalamannya. Pengetahuan juga tidak dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena kebenarannya belum teruji. Pengetahuan muncul disebabkan seseorang menemukan sesuatu yang sebelumnya belum pernah dilihatnya.
  • Teknologi adalah suatu penemuan melalui proses metode ilmiah, untuk mencapai suatu tujuan yang maksimal. Atau dapat diartikan sebagai sarana bagi manusia untuk menyediakan berbagai kebutuhan atau dapat mempermudah aktifitas.


    Kesimpulannya, ilmu pengetahuan mempunyai teori-teori atau rumus-rumus yang tetap, dan teknologi merupakan praktek atau ilmu terapan dari teori-teori yang berasal dari ilmu pengetahuan. Jadi ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Jika tidak ada ilmu pengetahuan, teknologi tidak akan ada. Pada hakekatnya manusia diciptakan sebagai mahluk tuhan yang sempurna yang dikaruniai akal dan pikiran untuk sehingga mereka selalu berusaha berpikir untuk mencapai kehidupan yang lebih baik lagi. Hasil buah pikiran manusia inilah yang menciptakan/mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mempermudah kehidupannya. Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan maka teknologi pun akan semakin berkembang dan kehidupan manusia pun menjadi semakin mudah. Oleh karena itu manusia berlomba-lomba dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi karena siapa yang menciptakan/menemukan ilmu pengetahuan dan teknologi terbaru maka merekalah yang akan memimpin dunia.

B.  Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
Telah banyak yang dilakukan manusia dari zaman dahulu, penemuan yang paling terasa perkembangannya pada saat ini adalah ketika ditemukannya teknologi komputer. Penemuan komputer membuat perkembangan Ilmu Pengetahuan dan teknologi  menjadi sangat pesat dan telah membawa manfaat luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Jenis-jenis pekerjaan yang sebelumnya menuntut kemampuan fisik cukup besar, kini relatif sudah bisa digantikan oleh perangkat mesin-mesin otomatis. Sistem kerja robotis telah mengalihfungsikan tenaga otot manusia dengan pembesaran dan percepatan yang menakjubkan.
Begitupun dengan telah ditemukannya formulasi-formulasi baru aneka kapasitas komputer, seolah sudah mampu menggeser posisi kemampuan otak manusia dalam berbagai bidang ilmu dan aktivitas manusia. Ringkas kata, kemajuan iptek yang telah kita capai sekarang benar-benar telah diakui dan dirasakan memberikan banyak kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan umat manusia sehinggapengembangan iptek dianggap sebagai solusi dari permasalahan yang ada.  


Dilihat dari berbagai bidang :

1.       Bidang Informasi dan komunikasi

Dampak positif dalam bidang informasi dan komunikasi antara lain:
a.    Membuka wawasan kita, Kita akan lebih cepat mendapatkan informasi-informasi yang akurat dan terbaru di bumi bagian manapun melalui  internet.
b.  Kita dapat berkomunikasi dengan teman, maupun keluarga yang sangat jauh hanya dengan melalui handphone ataupun media sosial dimanapun dan kapanpun dunia menjadi seakan tanpa batas.

Disamping keuntungan-keuntungan yang kita peroleh ternyata kemajuan kemajuan teknologi tersebut dimanfaatkan juga untuk hal-hal yang negatif, antara lain:
a.   Penggunaan informasi tertentu dan situs tertentu yang terdapat di internet yang bisa disalah gunakan fihak tertentu untuk tujuan tertentu.
b.    Masyarakat menjadi anti sosial, banyak anak-anak muda yang menghabiskan waktunya hanya untuk bermain game online. Sehingga tidak punya waktu untuk bersosialisasi/berkumpul dengan masyarakat di sekitarnya.
c.     Media sosial seakan mendekatkan yang jauh tetapi menjauhkan yang dekat. Banyak orang yang tidak peduli dengan orang-orang disekelilingnya karena tengah sibuk dengan teman-temannya di dunia maya yang jauh entah dimana.

 2. Bidang EkonomiIndustri dan kesehatan



      Dampak positif dalam bidang ekonomi, industri dan kesehatan antara lain:
a.       Penggunaan teknologi robotik membuat proses pembuatan suatu produk menjadi lebih cepat dan efisien sehingga mendatangkan keuntungan yang besar. Dan pekerjaan yang sulit dikerjakan oleh manusia dapat dengan mudah diselesaikan dengan teknologi robotik.
b.   Belanja menjadi lebih mudah, berkembangnya e-commerce yang sangat pesat membuat konsumen dimudahkan untuk berbelanja. Masyarakat tidak perlu repot-repok pergi ke toko untuk membeli barang sekrang semua tesedia hanya pada satu genggaman saja yaitu sebuah ponsel. Dengan pilihan barang yang banyak dan harga yang lebih kompetitif.
c.   Mudahnya berteransaksi perbankan, saat ini aktivitas perbankan seperti cek saldo, transfer uang bisa dilakukan tanpa harus ke bank, yaitu bisa dengan sms banking atau internet banking.
d.   Rasa sakit saat operasi bisa diminimalisir, dengan teknologi robotic surgery seorang pasien bisa melakukan operasi dengan rasa sakit yang ringan dan tidak meninggalkan luka. Sehingga membuat proses operasi menjadi tidak menyeramkan.

 Meskipun demikian ada pula dampak negatifnya antara lain:
a.    Terjadinya pengangguran, penggunaan robot pada dunia industri dapat menyebabkan tenaga manusia ditak banyak diserap. Karena semua sudah dapat dikerjakan oleh mesin/robot.
b.    Sifat konsumtif sebagai akibat dari mudahnya berbelanja. Bagi sebagian orang yang tidak bisa menahan diri karena godaan iklan yang menghampiri setiap saat di handphone membuat mereka semakin boros dan lupa untuk menabung.
c.  Banyaknya produksi kendaraan bermotor serta limbah industri yang tidak dikelola dengan baik menimbulkan polusi udara bahkan dapat menyebabkan pemanasan gobal dan perubahan iklim sehingga alam menjadi tidak bersahabat, karena telah dirusak oleh manusia.
d.    Radiasi sinyal handphone yang berbahaya bagi kesehatan.
e.  Menghilangkan nyawa manusia, belakangan ini banyak berita yang menyebutkan bahwa beberapa orang kehilangan nyawa karena terlalu asyik bermain “pokemon go” yaitu sebuah aplikasi game online.

2.       Bidang Pendidikan

Teknologi mempunyai peran yang sangat penting dalam bidang pendidikan antara lain:
 
a.    Munculnya media massa, khususnya media elektronik sebagai sumber ilmu dan pusat pendidikan. Dampak dari hal ini adalah guru bukannya satu-satunya sumber ilmu pengetahuan.
b. Munculnya metode-metode pembelajaran yang baru, yang memudahkan siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Dengan kemajuan teknologi terciptalah metode-metode baru yang membuat siswa mampu memahami materi-materi yang abstrak, karena materi tersebut dengan bantuan teknologi bisa dibuat abstrak.
c.  adanya aplikasi coomputer based test (CBT), aplikasi ini digunakan sebagai alat test pada dunia pendidikan. Tes untuk mengukur kemampuan siswa dengan menggunakan komputer, yang bisa menyimpan soal-soal dengan banyak dan dana mengetahui hasilnya secara cepat.
d. Sistem pembelajaran tidak harus melalui tatap muka Dengan kemajuan teknologi proses pembelajaran tidak harus mempertemukan siswa dengan guru, tetapi bisa juga menggunakan internet (e-learning).

 Disamping itu juga muncul dampak negatif dalam proses  pendidikan antara lain:
a.  Penyalahgunaan pengetahuan bagi orang-orang tertentu untuk melakukan tindak kriminal. Kita tahu bahwa kemajuan di badang pendidikan juga mencetak generasi yang berepngetahuan tinggi tetapi mempunyai moral yang rendah. Contonya dengan ilmu komputer yang tingi maka orang akan berusaha membobol server kampus untuk mendapatkan soal ujian, atau bahkan ada yang bisa merubah nilainya yang tadinya jelek menjadi baik. 
b.   Kemunduran moral siswa, perkembangan iptek membuat akses terhadap pornografi semakin mudah. Banyak pelajar yang menjadi korban dari berkembangkan pornografi sehingga sehingga malah gagal dalam pendidikannya.
c.     Membuat siswa menjadi malas dan kurang bekerja keras, dengan adanya alat perekam audio, foto dan video di ponsel banyak siswa yang menggunakannya karena malas mencatat. Padahal sifat seperti itu hanya menghasilkan generasi pemalas.

Sehingga, dari uraian diatas kita bisa menyimpulkan bahwa kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan ini, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Teknologi yang sebenarnya merupakan alat bentu/ekstensi kemampuan diri manusia.  Selain mempermudah kehidupan manusia sekaligus sebagai jawaban dari segala permasalahan yang ada, perkembangan Iptek harus ditanggapi secara bijak karena iptek mempunyai dampak negatif dan positif tergantung dari kita menyikapinya. Bagaikan dua sisi pisau,  Dia akan menjadi sangat bermanfaat jika kita gunakan untuk hal-hal yang baik tetapi dia akan menjerumuskan kita jika kita tidak pandai-pandai menggunakannya.

Referensi :